PENILAIAN PENGETAHUAN TERTULIS PADA KURIKULUM 2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Perubahan
merupakan sesuatu yang harus terjadi pada bidang pendidikan. Perubahan yang
terjadi adalah pergantian kurikulum 2013 dari kurikulum sebelumnya. Dalam
rangka menerapkan pendidikan yang bermutu, pemerintah telah menetapkan
Kurikulum Tahun 2013 untuk diterapkan di sekolah / madrasah. Pada setiap
aplikasi kurikulum mempunyai aplikasi pendekatan pembelajaran berbeda-beda,
demikian pada kurikulum sekarang ini. Scientific
approach (pendekatan ilmiah) adalah pendekatan pembelajaran yang diterapkan
pada aplikasi pembelajaran kurikulum 2013. Pendekatan ini berbeda dari
pendekatan pembelajaran kurikulum sebelumnya. Pada setiap langkah inti proses
pembelajaran, guru akan melakukan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan pendekatan
ilmiah.
Sebagai bagian dari Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya
keseimbangan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, kemampuan
matematika yang dituntut dibentuk melalui pembelajaran berkelanjutan: dimulai
dengan meningkatkan pengetahuan tentang metode-metode matematika, dilanjutkan
dengan keterampilan menyajikan suatu permasalahan secara matematis dan
menyelesaikannya, dan bermuara pada pembentukan sikap jujur, kritis, kreatif,
teliti, dan taat aturan.
Konsep
penilaian yang digunakan dalam kurikulum 2013 adalah penilaian autentik.
Penilaian autentik terdiri dari penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian
portofolio, dan penilaian proyek. Penilaian dalam pembelajaran memuat 3 ranah
yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penilaian ranah kognitif
mencakup kegiatan mental (otak). Penilaian ranah afektif berkaitan dengan sikap
dan nilai. Penilaian ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan (skill)
atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar
tertentu. Dalam sistem penilaian, antara kurikulum 2013 dan KTSP memiliki
perbedaan, salah satu diantaranya yaitu standar penilaian dalam kurikulum 2013
lebih menekankan pada penilaian berbasis kemampuan melalui penilaian proses dan
output sedangkan KTSP hanya berfokus pada pengetahuan melalui penilaian output.
Proses terakhir dalam kegiatan organisasi adalah
penilaian atau evaluasi. evaluasi adalah kegiatan penilaian dan pengukuran yang
berupa kegiatan mengumpulkan dan mengolah informasi tentang bekerjanya sesuatu,
yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang
tepat dalam mengambil suatu keputusan untuk langkah berikutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang
mempunyai tujuan, tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan kemampuan atau
perilaku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan kegiatan belajar.
Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran serta kualitas proses
belajar mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu usaha penilaian
atau evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Kegunaan evaluasi dalam proses
pendidikan adalah untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah menguasai tujuan
pelajaran yang telah ditetapkan, juga dapat mengetahui bagian-bagian mana dari
program pengajaran yang masih lemah dan perlu diperbaiki. Salah satu cara yang
digunakan dalam evaluasi diantaranya dengan menggunakan teknik pengumpulan data
tes, melalui tes kita dapat mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam
menerima pelajaran yang telah diberikan.
Tahapan pelaksanaan evaluasi proses pembelajaran
adalah penentuan tujuan, menentukan desain evaluasi, pengembangan instrumen
evaluasi, pengumpulan informasi/data, analisis dan interpretasi dan tindak
lanjut. Instrumen evaluasi hasil belajar untuk memperoleh informasi deskriptif
dan/atau informasi judgemantal dapat berwujud tes maupun non-test. Tes dapat
berbentuk obyektif atau uraian; sedang non-tes dapat berbentuk lembar
pengamatan atau kuesioner. Tes obyektif dapat berbentuk jawaban singkat,
benarsalah, menjodohkan dan pilihan ganda dengan berbagai variasi : biasa,
hubungan antar hal, kompleks, analisis kasus, grafik dan gambar tabel. Untuk
tes uraia yang juga disebut dengan tes subyektif dapat berbentuk tes uraian
bebas, bebas terbatas, dan terstruktur. Selanjutnya untuk penyusunan instrumen
tes atau nontes, seorang guru harus mengacu pada pedoman penyusunan
masing-masing jenis dan bentuk tes atau non tes agar instrumen yang disusun
memenuhi syarat instrumen. yang baik, minimal syarat pokok instrumen yang baik,
yaitu valid (sah) dan reliable (dapat dipercaya).
Seorang guru yang baik perlu memiliki keterampilan
untuk mengembangkan berbagai bentuk instrumen guna mengukur ketercapaian
kopetensi siswa dalam makalah ini kami akan memfokuskan pembahasan tentang
“Pengembangan Instrumen Penilaian Tes Tulis” sehingga kita bisa mengetahui dan
membedakan berbagai instrumen penilaian tes tulis.
1.2. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat ditarik beberapa
rumusan masalah, yaitu :
1. Apa pengertian penilaian tertulis?
2. Apa
dasar-dasar penilaian tertulis?
3. Apa
fungsi penilaian tertulis?
4. Apa
bentuk-bentuk dari penilaian tertulis?
1.3. Tujuan
Pembahasan
Tujuan dari pembahasan ini adalah :
1. Mengetauhi pengertian penilaian tertulis
2. Mengetauhi
dasar-dasar penilaian tertulis
3. Mengetauhi
fungsi penilaian tertulis
4. Mengetauhi bentuk-bentuk
dari penilaian tertulis
1.4 Manfaat
Manfaat pembahasan makalah ini adalah agar kita dapat
mengetahui bagaimana pengembangan dan penilaian dari tes tulis itu, sehingga
kita dapat mengetahui berbagai aspek atau kelengkapan dalam pembuatan soal
dan cara penilaian dalam tes tulis. Dan diharapkan makala ini dapat membantu
dalam pembuatan soal tes tulis dan bagaimana cara menentukan penilaiannya untuk
kita sebagai calon pendidik. Dalam makala ini juga membahas tentang
masing-masing kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam tes tulis. Semoga
malakah ini bisa bermanfaat.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian
Penilaian Tertulis
Penilaian tertulis
(paper andpencil assessment) merupakan penilaian dimana soal dan jawaban
yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan.(Nurlaili, Pdf).Tes
Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta
didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu
merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain
seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya. (Handa Out
MGMP, 2006).
Penilaian tertulis adalah penilaian yang dilakukan
seorang tenaga didik untuk mengetahui bagaimana respon atau jawaban siswa dalam
bahasa tulisannya sendiri, jadi anak dituntut untuk menuliskan argumennya
secara tertulis.
2.2 Dasar-dasar Penyusunan
Penilaian Tertulis
Dasar-dasar
penyusunan penilaian tertulis yaitu :
1. Dapat
mengukur apa yang dipelajari dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan
2. Mewakili
bahan yang telah dipelajari
3. Disesuaikan
dengan aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan
4. Disusun sesuai dengan tujuan
penggunaan tes itu sendiri
5. Hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
6. Mempertimbangkan proporsi
tingkat kesulitan dan kesesuaiannya dengan taraf
kemampuan siswa.
7. Soal harus jelas dan sesuai dengan persoalan yang disajikan.
8. Disusun dengan mempertimbangkan kaidah-kaidah penulisan soal
9. Menggunakan bahasa yang benar
10. Cara Penskoran:Skor diberikan kepada
peserta didik tergantung dari ketepatan dan
kelengkapan
jawaban yang diberikan. Semakin lengkap dan tepat jawaban,
semakin
tinggi
perolehan skor.
2.3 Fungsi Dari Penilaian Tertulis
1. Tes formatif
di kelas (classroom formatif assessment)
Tes Formatif adalah tes hasil belajar untuk mengetahui
keberhasilan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru, guna memperoleh
umpan balik dari upaya pengajaran yang dilakukan oleh guru.
Tujuan
: sebagai dasar untuk memperbaiki produktifitas belajar mengajar.
Contohnya:
tes yang dilakukan setelah pembahasan tiap bab atau KD (kompetensi dasar).
Ada dua jenis pengolahan yang diperlukan di dalam
penilaian formatif ini, yaitu :
a. Pengolahan untuk mendapatkan
angka presentase siswa yang gagal dalam setiap soal, misalnya :
Soal Nomer
|
% siswa yang gagal
|
1
|
30 %
|
2
|
85 %
|
3
|
60 %
|
dan sebagainya
|
dan seterusnya
|
Untuk
soal bentuk uraian, pengertian “siswa yang gagal” di atas dapat pula diartikan
sebagai siswa yang jawabannya terhadap suatu soal dipandang kurang memuaskan..
b. Pengolahan untuk
mendapatka hasil yang dicapai setipa siswa dalam tes secara keseluruhan
ditinjau dari presentase jawaban yang memuaskan, misalnya :
Nama Siswa
|
Hasil yang dicapai
( % jawaban yang memuaskan)
|
1. Iswa
|
90 %
|
2. Jamilah
|
60 %
|
3. Nurwiyatsih
|
75 %
|
dan seterusnya
|
dan seterusnya
|
Sebagai contoh. Bila skor maksimum yang harus dicapai
dalam suatu tes adalah 60, angka yang dicapai Iswa dalam tes tersebut adalah :
Dengan
kata lain, cara menilai tes formatif dilakukan dengan percentages correction
(hasil yang dicapai setiap siswa dihitung
dari persentase jawaban yang benar).
Keterangan :
S = nilai yang
diharapkan
R = jumlah skor dari
item atau soal yang dijawab benar
N = skor maksimum
dari tes tersebut
|
Tes
formatif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a) Dilakukan
pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar
b) Dilakukan
secara periodik
c) Mencakup
semua mata pelajaran yang telah di ajarkan
d) Bertujuan
untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar
e) Dapat
di gunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar.
2. Tes Sumatif
Tes Sumatif adalah tes hasil belajar untuk mengetahui
keberhasilan belajar murid setelah mengikuti program pengajaran tertentu.
Tujuan:
menentukan hasil yang dicapai peserta didik dalam program tertentu dalam wujud
status keberhasilan peserta didik pada setiap akhir program pendidikan dan
pengajaran, mengukur
keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh..
Contohnya:
Tes catur wulan,Tes akhir semester,
Materi yang diujikan meliputi seluruh pokok bahasan dan tujuanpengajaran
dalam satu program tahunan atau semester.Dilakukan pada akhir program dalam
satu tahun atau semester. Hasil penilaian sumatif digunakan antara lain untuk penentuan kenaikan kelas, kelulusan sekolah dan sebagainya
2.4 Bentuk-bentuk Dari
Penilaian Tertulis
1. Tes Objektif
Tes ini dikenal dengan istilah tes jawaban pendek, tes
“ya-tidak” dan tes model baru, adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang
terdiri dari butir-butir soal yang dapat dijawab testee dengan jalan memilih
salah satu diantara beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada
masing-masing item atau dengan cara menuliskan jawabannya berupa kata-kata atau
simbol-simbol tertentu pada tempat yang telah disediakan untuk masing-masing
butir item yang bersangkutan.Suatu tes yang soal-soalnya terdiri dari atas
butir-butir soal bentuk objektif.Tes Objektif berbeda dengan tes uraian,
tugas-tugas dan persoalan-pesoalan dalam tes objektif sudah terstruktur,
sehingga jawaban terhadap soal-soal tersebut sudah dapat ditentukan secara
pasti.
Tes objektif
terbagi menjadi :
a) Pilihan Ganda
Tes
pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami.
Tiap soal pilihan ganda terdiri dari dua bagian,yaitu pertanyaaan yanga biasa
juga disebut stem,dan
alternative jawaban disebut juga option.Stem mungkin dalam bentuk pernyataan atau dapat juga
berupa pertanyaan.Bila berbentuk pernyataan,mungkin merupakan pernyataan yang
lengkap atau pernyataan yang tidak lengkap.Mungkin pula berisi pernyataan dan
pertanyaan.Option terdiri dari beberapa pilihan,dan salah satu dari alternative
pilihan itu adalah jawaban yang benar terhadap pertanyaan.Option yang merupakan
jawaban yang benar dinamakan Kunci Jawaban.Alternatif jawaban yang bukan kunci jawaban dinamakan
pengecoh ataudistractor.
Tes Multiple
Choice item terdiri dari dua bagian, yaitu:
a. Item
atau soal, yang dapat berbentuk pertanyaan dan dapat pula berbentuk pernyataan.
b. Option
atau alternative, yaitu kemungkinan-kemungkinan jawab yang dapat dipilih oleh
testee.
Dan terdiri dari dua bagian, yaitu :
1. Satu
jawaban betul, yang bisa disebut kunci jawaban.
2. Beberapa
pengecoh atau distractor, yang jumlahnya berkirsar antara dua sampai lima buah.
b) Soal dengan Dua Pilihan Jawaban (Benar-Salah,
Ya-Tidak)
Tes benar-salah (true-false).
Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement).Butir soal benar salah (true – false item ) adalah
soal yang terdiri dari pernyataan penyataan (statemen) yang disertai dengan
alternatif jawaban. Pernyataan tersebut adalah benar salah Peserta tes trsebut
tinggal menyilang atau melingkari huruf B jika pernyataan menurut pendapat
benar dan huruf S jika salah.Banyak hal yang harus diperhatikan dalam membuat
soal benar salah agar mendapatkan butir soal yang baik.
c) Bentuk Soal Menjodohkan (Matching)
Matching test dapat
kita ganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan, atau
menjodohkan. Tugas murid ialah mencari dan
menempatkan jawaban-jawaban sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.
d) Tes Isian/Melengkapi(Completion
Test)
Completion Test biasanya disebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes
melengkapi. Terdiri atas kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan dan harus diisi oleh murid. Tes
bentuk melengkapi (complete test) dapat berupa isian dan ada pula yang
merupakan jawaban singkat. Tes ini merupakan satu-satunya tes objektif yang
menuntut agar peserta tes memberikan jawaban, bukan memilih jawaban. Tes
melengkapi dikatagorikan ke dalam tes objektif. Pada bentuk tes isian ini
peserta tes melengkapi atau mengisi titik-titik atau bagian yang dikosongkan
pada pokok uji dengan hanya satu kata, ungkapan, maupun angka. Peserta tes
dapat pula diminta untuk memberikan jawaban atas suatu soal yang memerlukan
perhitungan. Apabila pada suatu pokok uji tedapat dua atau lebih titik-titik
yang harus diisi,maka setiap titik-titik itu hanya dapat diisi dengan benar
oleh kata atau angka yang sudah tertentu atau pasti. Tes ini bisa disusun
berurutan ke bawah dengan diberi nomor dan dapat pula disusun dalam bentuk
kalimat tersambung berbentuk karangan.
2. Tes Subyektif
Tes Subjektif merupakan tes yang jawabannya berupa uraian
dan penyekorannya dilakukan dengan pertimbangan benar salahnya uraian yang
diberikan testi (peserta tes).
a) Bentuk Soal Uraian
Tes tertulis bentuk uraian adalah
alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat, memahami, dan
mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari, dengan cara
mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis
dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis
kemampuan, misalnya mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan.
2. Uraian terbatas
Dalam
bentuk ini pertanyaan telah di arahkan kepada hal-hal tertentu atau ada
pembatasan tertentu. Pembatasan bisa dari segi ruang lingkupnya, sudut pandang
menjawabnya, dan indicator-indikator. Dengan adanya pembatasan tersebut jawaban
siswa akan lebih terarah sesuai dengan yang di harapkan. Cara memberikan
penilaian juga lebih jelas indikatornya. Criteria kebenaran jawaban bisa lebih
mudah di tentukan. Oleh sebab itu, bentuk soal uraian terbatas lebih terarah di
gunakan dari pada bentuk uraian bebas.
Pembatasan bisa dari segi:
(a) ruang lingkupnya,
(b) sudut panjangmenjawabnya,
(c) indikator-indikatornya
3. Uraian berstruktur
Soal berstruktur berisi unsur-unsur:
(a) pengantar soal,
(b) seperangkat
data,
(c) serangkaian
subsoal.
2.5 Langkah-langkah Membuat Tes
Tertulis
1. Materi, misalnya kesesuian soal dengan
indikator pada kurikulum
2. Rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas;
3. Bahasa,
misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan
penafsiran ganda
2.6 Komponen atau Kelengkapan Sebelum Tes
1. Buku
tes,
2. Lembaran
jawaban tes,
3. Kunci
jawaban tes. Ide daripada adanya kunci jawaban ini adalah agar :
- Pemeriksaan tes dapat dilakukan oleh orang lain.
- Pemeriksaannya benar.
- Dapat dilakukan dengan mudah.
- Sedikit mungkin masuknya unsur subjektif
4. Pedoman
penilaian (pedoman skoring), berisi keterangan perincian tentang skor atau
angka
yang diberikan kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan
Hal-hal
yang harus di lakukan :
a) menentukan tujuan tes
b) menyusun kisi-kisi soal
c) penulisan soal
d) pemberian skor
e) pelaporan hasil tes
Langkah-langkah
pembuatan/pengisian kisi-kisi :
1.
Mendaftar pokok-pokok materi yang akan diteskan (berdasarkan silabus)
2.
Memberikan imbangan bobot/presentase untuk
masing-masing pokok materi (berdasarkan pada luas dan tingkat kedalaman materi)
3.
Merinci banyaknya butir soal (proporsi jumlah item)
untuk tiap-tiap materi.
4.
Menentukan proporsi/prosentase untuk setiap pokok
aspek intelektual yang
diukur bagi setiap pokok-pokok materi (perhatikan
homogenitas dan heterogenitas bahan).
5.
Mengisi sel-sel dalam kisi-kisi
6.
Pemberian nomor item.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tes tulis merupakan bentuk instrumen penilaian yang
biasa di lakukan di setiap kegiatan penilaian. Penilaian tes tulis perlu di
pelajari karena masing-masing bentuk penilaian tes tulis mempunyai bentuk yang
berbeda. Misalnya, seorang pendidik ingin mengadakan UTS, maka pendidik dapat
membuat soal dalam bentuk pilihan ganda karena bentuk instrumen ini mudah dalam
pengoreksiannya.
Macam-macam penilaian tes tulis (bentuk instrumen)
meliputi:
a. Tes benar salah
b. Tes
menjodohkan
c. Tes pilihan ganda
d. Tes
melengkapi
e. Uraian objektif dan non objektif (uraian bebas)
f. dan tes jawaban singkat.
3.2 Saran
Setelah membaca dan memahami makalah yang penulis
susun ini, penulis mengharapkan agar setiap pembaca dapat memberikan respon
yang baik.Dengan berbagai kekurangan yang penulis miliki, penulis juga
menghimbau kepada pembaca agar juga tetap berusaha mencari referensi lain baik
dari makalah lain, buku, maupun dari internet tentang materi atau hal yang
berkaitan dengan model pembelajaran yang baik bagi pembelajaran. Dengan rendah
hati, penulis juga selalu mengharapkan kritik dan saran yang menunjang
kesempurnaan makalah ini dari setiap pembaca, atas partisipasinya, penulis mengucapkan
limpah terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Sudiono
Anas, 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta;PT. Raja Grafindo
Sutikno,
Sobri. 2005. Pembelajaran Efektif. NTB. PT. Katalog Dalam Terbitan
Arikunto,
Suharsimi. 2006. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:Bumi Aksara
Nana
Sudjana. 1989. Penilaian hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
Sudijono
Anas. 1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo Persada
Sukardi.
2008. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sumiati dan Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima
Sumiati dan Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima