Kamis, 23 Februari 2017

PENILAIAN PENGETAHUAN TERTULIS PADA KURIKULUM 2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang

Perubahan merupakan sesuatu yang harus terjadi pada bidang pendidikan. Perubahan yang terjadi adalah pergantian kurikulum 2013 dari kurikulum sebelumnya. Dalam rangka menerapkan pendidikan yang bermutu, pemerintah telah menetapkan Kurikulum Tahun 2013 untuk diterapkan di sekolah / madrasah. Pada setiap aplikasi kurikulum mempunyai aplikasi pendekatan pembelajaran berbeda-beda, demikian pada kurikulum sekarang ini.  Scientific approach (pendekatan ilmiah) adalah pendekatan pembelajaran yang diterapkan pada aplikasi pembelajaran kurikulum 2013. Pendekatan ini berbeda dari pendekatan pembelajaran kurikulum sebelumnya. Pada setiap langkah inti proses pembelajaran, guru akan melakukan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan pendekatan ilmiah.
Sebagai bagian dari Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya keseimbangan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, kemampuan matematika yang dituntut dibentuk melalui pembelajaran berkelanjutan: dimulai dengan meningkatkan pengetahuan tentang metode-metode matematika, dilanjutkan dengan keterampilan menyajikan suatu permasalahan secara matematis dan menyelesaikannya, dan bermuara pada pembentukan sikap jujur, kritis, kreatif, teliti, dan taat aturan.
Konsep penilaian yang digunakan dalam kurikulum 2013 adalah penilaian autentik. Penilaian autentik terdiri dari penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian portofolio, dan penilaian proyek. Penilaian dalam pembelajaran memuat 3 ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penilaian ranah kognitif mencakup kegiatan mental (otak). Penilaian ranah afektif berkaitan dengan sikap dan nilai. Penilaian ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Dalam sistem penilaian, antara kurikulum 2013 dan KTSP memiliki perbedaan, salah satu diantaranya yaitu standar penilaian dalam kurikulum 2013 lebih menekankan pada penilaian berbasis kemampuan melalui penilaian proses dan output sedangkan KTSP hanya berfokus pada pengetahuan melalui penilaian output.

Proses terakhir dalam kegiatan organisasi adalah penilaian atau evaluasi. evaluasi adalah kegiatan penilaian dan pengukuran yang berupa kegiatan mengumpulkan dan mengolah informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil suatu keputusan untuk langkah berikutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mempunyai tujuan, tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan kemampuan atau perilaku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan kegiatan belajar. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran serta kualitas proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu usaha penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Kegunaan evaluasi dalam proses pendidikan adalah untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah menguasai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan, juga dapat mengetahui bagian-bagian mana dari program pengajaran yang masih lemah dan perlu diperbaiki. Salah satu cara yang digunakan dalam evaluasi diantaranya dengan menggunakan teknik pengumpulan data tes, melalui tes kita dapat mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah diberikan.
Tahapan pelaksanaan evaluasi proses pembelajaran adalah penentuan tujuan, menentukan desain evaluasi, pengembangan instrumen evaluasi, pengumpulan informasi/data, analisis dan interpretasi dan tindak lanjut. Instrumen evaluasi hasil belajar untuk memperoleh informasi deskriptif dan/atau informasi judgemantal dapat berwujud tes maupun non-test. Tes dapat berbentuk obyektif atau uraian; sedang non-tes dapat berbentuk lembar pengamatan atau kuesioner. Tes obyektif dapat berbentuk jawaban singkat, benarsalah, menjodohkan dan pilihan ganda dengan berbagai variasi : biasa, hubungan antar hal, kompleks, analisis kasus, grafik dan gambar tabel. Untuk tes uraia yang juga disebut dengan tes subyektif dapat berbentuk tes uraian bebas, bebas terbatas, dan terstruktur. Selanjutnya untuk penyusunan instrumen tes atau nontes, seorang guru harus mengacu pada pedoman penyusunan masing-masing jenis dan bentuk tes atau non tes agar instrumen yang disusun memenuhi syarat instrumen. yang baik, minimal syarat pokok instrumen yang baik, yaitu valid (sah) dan reliable (dapat dipercaya).
Seorang guru yang baik perlu memiliki keterampilan untuk mengembangkan berbagai bentuk instrumen guna mengukur ketercapaian kopetensi siswa dalam makalah ini kami akan memfokuskan pembahasan tentang “Pengembangan Instrumen Penilaian Tes Tulis” sehingga kita bisa mengetahui dan membedakan berbagai instrumen penilaian tes tulis.

1.2.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat ditarik beberapa rumusan masalah, yaitu :
1.       Apa pengertian penilaian tertulis?
2.      Apa dasar-dasar penilaian tertulis?
3.      Apa fungsi penilaian tertulis?
4.      Apa bentuk-bentuk dari penilaian tertulis?

1.3.    Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan ini adalah :
1.      Mengetauhi pengertian penilaian tertulis
2.      Mengetauhi dasar-dasar penilaian tertulis
3.      Mengetauhi fungsi penilaian tertulis
4.      Mengetauhi  bentuk-bentuk dari penilaian tertulis
                           
1.4    Manfaat
Manfaat pembahasan makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui bagaimana pengembangan dan penilaian dari tes tulis itu, sehingga kita dapat mengetahui  berbagai aspek atau kelengkapan dalam pembuatan soal dan cara penilaian dalam tes tulis. Dan diharapkan makala ini dapat membantu dalam pembuatan soal tes tulis dan bagaimana cara menentukan penilaiannya untuk kita sebagai calon pendidik. Dalam makala ini juga membahas tentang masing-masing kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam tes tulis. Semoga malakah ini bisa bermanfaat.










BAB II
KAJIAN TEORI

2.1      Pengertian Penilaian Tertulis
Penilaian tertulis (paper andpencil assessment) merupakan penilaian dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan.(Nurlaili, Pdf).Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya. (Handa Out MGMP, 2006).
Penilaian tertulis adalah penilaian yang dilakukan seorang tenaga didik untuk mengetahui bagaimana respon atau jawaban siswa dalam bahasa tulisannya sendiri, jadi anak dituntut untuk menuliskan argumennya secara tertulis.

2.2       Dasar-dasar Penyusunan Penilaian Tertulis
Dasar-dasar penyusunan penilaian tertulis yaitu :
1.      Dapat mengukur apa yang dipelajari dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan
2.      Mewakili bahan yang telah dipelajari
3.      Disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan
4.      Disusun sesuai dengan tujuan penggunaan tes itu sendiri
5.      Hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
6.      Mempertimbangkan proporsi tingkat kesulitan dan kesesuaiannya dengan taraf
         kemampuan siswa.
7.      Soal  harus jelas  dan  sesuai  dengan  persoalan  yang disajikan.
8.      Disusun  dengan  mempertimbangkan  kaidah-kaidah  penulisan  soal
9.      Menggunakan bahasa yang benar 
10.   Cara Penskoran:Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan  
        kelengkapan jawaban   yang diberikan. Semakin lengkap dan tepat jawaban, semakin
        tinggi perolehan skor.

2.3  Fungsi Dari Penilaian Tertulis
1.      Tes formatif di kelas (classroom formatif assessment)
Tes Formatif adalah tes hasil belajar untuk mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru, guna memperoleh umpan balik dari upaya pengajaran yang dilakukan oleh guru.
Tujuan : sebagai dasar untuk memperbaiki produktifitas belajar mengajar.
Contohnya: tes yang dilakukan setelah pembahasan tiap bab atau KD (kompetensi dasar).
 Ada dua jenis pengolahan yang diperlukan di dalam penilaian formatif ini, yaitu :
a.    Pengolahan untuk mendapatkan angka presentase siswa yang gagal dalam setiap soal, misalnya :


  
          Soal Nomer
      % siswa yang gagal
  1
      30 %
  2
      85 %
  3
      60 %
       dan sebagainya
             dan seterusnya

Untuk soal bentuk uraian, pengertian “siswa yang gagal” di atas dapat pula diartikan sebagai siswa yang jawabannya terhadap suatu soal dipandang kurang memuaskan..
b.   Pengolahan untuk mendapatka hasil yang dicapai setipa siswa dalam tes secara keseluruhan ditinjau dari presentase jawaban yang memuaskan, misalnya :


Nama Siswa
Hasil yang dicapai
( % jawaban yang memuaskan)
1.      Iswa
90 %
2.      Jamilah
60 %
3.      Nurwiyatsih
75 %
dan seterusnya
dan seterusnya

Sebagai contoh. Bila skor maksimum yang harus dicapai dalam suatu tes adalah 60, angka yang dicapai Iswa dalam tes tersebut adalah :
Dengan kata lain, cara menilai tes formatif dilakukan dengan percentages correction (hasil yang dicapai setiap siswa  dihitung dari persentase jawaban yang benar).
Keterangan :
S = nilai yang diharapkan
R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar
N = skor maksimum dari tes tersebut


Tes formatif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a)      Dilakukan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar
b)      Dilakukan secara periodik
c)      Mencakup semua mata pelajaran yang telah di ajarkan
d)     Bertujuan untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar
e)      Dapat di gunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar.


2.      Tes Sumatif
Tes Sumatif adalah tes hasil belajar untuk mengetahui keberhasilan belajar murid setelah mengikuti program pengajaran tertentu.
Tujuan: menentukan hasil yang dicapai peserta didik dalam program tertentu dalam wujud status keberhasilan peserta didik pada setiap akhir program pendidikan dan pengajaran, mengukur keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh..
Contohnya: Tes catur wulan,Tes akhir semester,
Materi  yang  diujikan  meliputi  seluruh  pokok  bahasan  dan  tujuanpengajaran dalam satu program tahunan atau semester.Dilakukan pada akhir program dalam satu tahun atau semester. Hasil  penilaian  sumatif  digunakan  antara  lain  untuk  penentuan kenaikan kelas, kelulusan sekolah dan sebagainya

2.4        Bentuk-bentuk Dari Penilaian Tertulis
1.        Tes Objektif
Tes ini dikenal dengan istilah tes jawaban pendek, tes “ya-tidak” dan tes model baru, adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal yang dapat dijawab testee dengan jalan memilih salah satu diantara beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada masing-masing item atau dengan cara menuliskan jawabannya berupa kata-kata atau simbol-simbol tertentu pada tempat yang telah disediakan untuk masing-masing butir item yang bersangkutan.Suatu tes yang soal-soalnya terdiri dari atas butir-butir soal bentuk objektif.Tes Objektif berbeda dengan tes uraian, tugas-tugas dan persoalan-pesoalan dalam tes objektif sudah terstruktur, sehingga jawaban terhadap soal-soal tersebut sudah dapat ditentukan secara pasti.
Tes objektif terbagi menjadi :
a)    Pilihan Ganda
Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. Tiap soal pilihan ganda terdiri dari dua bagian,yaitu pertanyaaan yanga biasa juga disebut stem,dan alternative jawaban disebut juga option.Stem mungkin dalam bentuk pernyataan atau dapat juga berupa pertanyaan.Bila berbentuk pernyataan,mungkin merupakan pernyataan yang lengkap atau pernyataan yang tidak lengkap.Mungkin pula berisi pernyataan dan pertanyaan.Option terdiri dari beberapa pilihan,dan salah satu dari alternative pilihan itu adalah jawaban yang benar terhadap pertanyaan.Option yang merupakan jawaban yang benar dinamakan Kunci Jawaban.Alternatif jawaban yang bukan kunci jawaban dinamakan pengecoh ataudistractor.
  Tes Multiple Choice item terdiri dari dua bagian, yaitu:
a.    Item atau soal, yang dapat berbentuk pertanyaan dan dapat pula berbentuk pernyataan.
b.    Option atau alternative, yaitu kemungkinan-kemungkinan jawab yang dapat dipilih oleh
       testee. Dan terdiri dari dua bagian, yaitu :
1.    Satu jawaban betul, yang bisa disebut kunci jawaban.
2.    Beberapa pengecoh atau distractor, yang jumlahnya berkirsar antara dua sampai lima buah.

b)        Soal dengan Dua Pilihan Jawaban (Benar-Salah, Ya-Tidak)
Tes benar-salah (true-false). Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement).Butir soal benar salah (true – false item ) adalah soal yang terdiri dari pernyataan penyataan (statemen) yang disertai dengan alternatif jawaban. Pernyataan tersebut adalah benar salah Peserta tes trsebut tinggal menyilang atau melingkari huruf B jika pernyataan menurut pendapat benar dan huruf S jika salah.Banyak hal yang harus diperhatikan dalam membuat soal benar salah agar mendapatkan butir soal yang baik.
c)        Bentuk Soal Menjodohkan (Matching)
Matching test dapat kita ganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan, atau menjodohkan. Tugas murid ialah mencari dan menempatkan jawaban-jawaban sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.


d)   Tes Isian/Melengkapi(Completion Test)
Completion Test biasanya disebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes melengkapi. Terdiri atas kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan dan harus diisi oleh murid. Tes bentuk melengkapi (complete test) dapat berupa isian dan ada pula yang merupakan jawaban singkat. Tes ini merupakan satu-satunya tes objektif yang menuntut agar peserta tes memberikan jawaban, bukan memilih jawaban. Tes melengkapi dikatagorikan ke dalam tes objektif. Pada bentuk tes isian ini peserta tes melengkapi atau mengisi titik-titik atau bagian yang dikosongkan pada pokok uji dengan hanya satu kata, ungkapan, maupun angka. Peserta tes dapat pula diminta untuk memberikan jawaban atas suatu soal yang memerlukan perhitungan. Apabila pada suatu pokok uji tedapat dua atau lebih titik-titik yang harus diisi,maka setiap titik-titik itu hanya dapat diisi dengan benar oleh kata atau angka yang sudah tertentu atau pasti. Tes ini bisa disusun berurutan ke bawah dengan diberi nomor dan dapat pula disusun dalam bentuk kalimat tersambung berbentuk karangan.



2.        Tes Subyektif
Tes Subjektif merupakan tes yang jawabannya berupa uraian dan penyekorannya dilakukan dengan pertimbangan benar salahnya uraian yang diberikan testi (peserta tes).
a)   Bentuk Soal Uraian
Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari, dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan, misalnya mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan.
2.    Uraian terbatas
Dalam bentuk ini pertanyaan telah di arahkan kepada hal-hal tertentu atau ada pembatasan tertentu. Pembatasan bisa dari segi ruang lingkupnya, sudut pandang menjawabnya, dan indicator-indikator. Dengan adanya pembatasan tersebut jawaban siswa akan lebih terarah sesuai dengan yang di harapkan. Cara memberikan penilaian juga lebih jelas indikatornya. Criteria kebenaran jawaban bisa lebih mudah di tentukan. Oleh sebab itu, bentuk soal uraian terbatas lebih terarah di gunakan dari pada bentuk uraian bebas.
Pembatasan bisa dari segi:
(a) ruang lingkupnya,
(b) sudut panjangmenjawabnya,
(c) indikator-indikatornya
3.    Uraian berstruktur
Soal berstruktur  berisi unsur-unsur:
(a) pengantar soal,
(b) seperangkat data,
(c) serangkaian subsoal.

2.5        Langkah-langkah Membuat Tes Tertulis
1.        Materi, misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum
2.        Rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas;
3.        Bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan  
       penafsiran ganda

2.6        Komponen atau Kelengkapan Sebelum Tes
1.      Buku tes,
2.      Lembaran jawaban tes,
3.      Kunci jawaban tes. Ide daripada adanya kunci jawaban ini adalah agar :
-          Pemeriksaan tes dapat dilakukan oleh orang lain.
-          Pemeriksaannya benar.
-          Dapat dilakukan dengan mudah.
-          Sedikit mungkin masuknya unsur subjektif
4.      Pedoman penilaian (pedoman skoring), berisi keterangan perincian tentang skor atau
         angka yang diberikan kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan
   Hal-hal yang harus di lakukan :
a)      menentukan tujuan tes
b)      menyusun kisi-kisi soal
c)      penulisan soal
d)     pemberian skor
e)      pelaporan hasil tes         

Langkah-langkah pembuatan/pengisian kisi-kisi :
1.      Mendaftar  pokok-pokok  materi  yang  akan  diteskan  (berdasarkan silabus)
2.     Memberikan imbangan bobot/presentase untuk masing-masing pokok materi (berdasarkan pada luas dan tingkat kedalaman materi)
3.     Merinci banyaknya butir soal (proporsi jumlah item) untuk tiap-tiap materi.
4.     Menentukan proporsi/prosentase untuk setiap pokok aspek intelektual yang
    diukur bagi setiap pokok-pokok materi (perhatikan homogenitas dan heterogenitas bahan).
5.     Mengisi sel-sel dalam kisi-kisi
6.     Pemberian nomor item.






BAB III
PENUTUP
3.1      Kesimpulan
Tes tulis merupakan bentuk instrumen penilaian yang biasa di lakukan di setiap kegiatan penilaian. Penilaian tes tulis perlu di pelajari karena masing-masing bentuk penilaian tes tulis mempunyai bentuk yang berbeda. Misalnya, seorang pendidik ingin mengadakan UTS, maka pendidik dapat membuat soal dalam bentuk pilihan ganda karena bentuk instrumen ini mudah dalam pengoreksiannya.
Macam-macam penilaian tes tulis (bentuk instrumen) meliputi:
a.       Tes benar salah
b.      Tes menjodohkan
c.       Tes pilihan ganda
d.      Tes melengkapi
e.       Uraian objektif dan non objektif (uraian bebas)
f.       dan tes jawaban singkat.

3.2       Saran
Setelah membaca dan memahami makalah yang penulis susun ini, penulis mengharapkan agar setiap pembaca dapat memberikan respon yang baik.Dengan berbagai kekurangan yang penulis miliki, penulis juga menghimbau kepada pembaca agar juga tetap berusaha mencari referensi lain baik dari makalah lain, buku, maupun dari internet tentang materi atau hal yang berkaitan dengan model pembelajaran yang baik bagi pembelajaran. Dengan rendah hati, penulis juga selalu mengharapkan kritik dan saran yang menunjang kesempurnaan makalah ini dari setiap pembaca, atas partisipasinya, penulis mengucapkan limpah terima kasih.





  


DAFTAR PUSTAKA

Sudiono Anas, 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta;PT. Raja Grafindo
Sutikno, Sobri. 2005. Pembelajaran Efektif. NTB. PT. Katalog Dalam Terbitan
Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:Bumi Aksara
Nana Sudjana. 1989. Penilaian hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
Sudijono Anas. 1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo Persada
Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sumiati dan Asra. 2007.
 Metode Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima